Donggala kota pelabuhan yang tengah berduka

statusterkini.com – Gempa tsunami melanda di Donggala, Indonesia bagian tengah kembali berduka karena banyaknya korban yang berjatuhan. Gempa bumi berkekuatan 5,9 skala richter dan susulan sebesar 7,4 skala richter mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah.

Donggala adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Tengah dengan pusat pemerintahan terletak di Kecamatan Banawa. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 12.890,8 km persegi dan berpenduduk 466.898 jiwa. Kota pelabuhan terbesar di Sulawesi pada masanya itu, kini tengah berduka.

Kab. Donggala yang saat ini dipimpin Bupati Kasman Lassa dan Wakil Bupati Vera Elena Enor Laruni, dihantam bencana gempa berkekuatan 7,4 SR pada Jumat (28/9/2018) akibat aktivitas sesar Palu-Koro.

Titik pusat gempa hanya berjarak 27 kilometer timur laut Donggala di kedalaman 10 km. Dalam konferensi pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu siang (29/9/2018), dampak gempa ini di Donggala belum bisa diidentifikasi.

Donggala

Letak Donggala relatif dekat dari Palu, ibukota provinsi Sulteng. Dari Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Kota Palu, jarak menuju pusat pemerintahan Donggala sekitar 35 km. Dalam kondisi normal, cukup ditempuh selama sekitar satu jam perjalanan darat melalui jalur trans Sulawesi.

Donggala serta Sulawesi pada umumnya memiliki sisi lain yaitu rawan gempa dan tsunami. Sejarah mencatat empat tsunami akibat gempa bumi di Sulteng sejak 1927. Gempa terbesar terjadi pada 1 Januari 1996. Tsunami setinggi 3,4 meter muncul setelah gempa berkekuatan 7,9 SR dan merenggut 9 nyawa serta 400 rumah rusak berat.
Sesar Palu-Koro memanjang dari Selat Makassar hingga pantai utara Teluk Bone dengan panjang patahan mencapai 500 kilometer. Di Palu, beberapa segmen sesar ini berada di wilayah daratan hingga lembah Pipikoro. Kemudian sesar memanjang sampai Kabupaten Donggala yang berada di selatan Kota Palu.

Hasil analisis kegempaan yang dilakukan Suliyanti Pakpahan dkk. dalam Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol. 6 No. 3, Desember 2015, di sekitar sesar Palu-Koro mengindikasikan bahwa sesar tersebut masih sangat aktif dengan posisi dan mekanisme sumber yang terbagi menjadi beberapa segmen.

Aktivitas kegempaan (seismisitas) di wilayah ini tidak mengindikasikan struktur linier batuan yang utuh, tetapi terdiri atas beberapa klaster yang diduga disebabkan oleh aktivitas sesar dari beberapa segmen Palu-Koro dan sesar-sesar minor di sekitarnya.

Donggala

Hasil penelitian mengidentifikasi setidaknya tiga segmen sesar Palu-Koro, yaitu segmen Lindu yang merupakan sesar geser menganan dengan arah relatif barat daya-timur laut dengan dip sekitar 80 derajat; segmen Balaroa yang merupakan sesar turun; dan segmen Toro dengan tipe naik dengan arah relatif barat daya – timur laut.

Pada abad ke-18, Donggala pernah jadi kota tujuan utama para pelaut karena letaknya yang strategis di ujung kiri bagian utara Teluk Palu. Di beberapa tempat, masih ada sisa kejayaannya yaitu bangunan era kolonial Belanda.

Posisinya memanjang di bagian tegak pulau Sulawesi, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tolitoli dan Kota Palu; Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Parigi Moutong, Kota Palu dan Kabupaten Sigi; Sebelah selatan dengan Sulawesi Barat , Kota Palu dan Kabupaten Sigi; dan Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar dan Sulawesi Barat.

Dengan ditetapkannya Daerah Tingkat II Donggala sebagai Daerah Otonomi percontohan, sesuai PP No. 43 Tahun 1995 tentang Pembentukan Kecamatan di Propinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Donggala telah dimekarkan dari 15 kecamatan menjadi 18 kecamatan.

Berdasarkan profil yang dirilis Pemerintah Kabupaten Donggala, kabupaten itu terbagi atas Pantai Barat, yang meliputi; Kecamatan Labuan, Tanantovea, Sindue, Sindue Tambusabora, Sindue Tobata, Sirenja, Balaesang, Balaesang Tanjung, Damsol, Sojol, Sojol Utara merupakan daerah pantai dan memiliki lahan yang relatif subur.

Donggala

Potensi yang menonjol di daerah tersebut adalah perikanan, pertambangan, perdagangan, galian penunjang industri. Wilayah ini memiliki potensi tambang yang cukup besar khususnya mineral, non mineral dan batu bara.

Kemudian wilayah Banawa yang merupakan ibukota Kabupaten Donggala, meliputi Kecamatan Banawa, Banawa Selatan, Banawa Tengah, Pinembani dan Rio Pakava, merupakan daerah yang relatif subur. Infrastrukturnya sudah mulai tertata dengan baik sehingga dapat menunjang kegiatan pemerintah dan masyarakat.

Jenjang pendidikan penduduk juga termasuk yang terbaik dibandingkan dengan wilayah lain. Potensi pariwisata pun diklaim mulai tergarap dengan baik. Bagian terbesar dari struktur ekonomi adalah pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan.

Zaman penjajahan Belanda, Donggala pernah berjaya. Kini, pamor Donggala sebagai kota pelabuhan kalah dari kota lain di sekitarnya. Namun, mereka berusaha bangkit, salah satunya melalui wisata. Pantai Tanjung Karang merupakan salah satu destinasi wisata alam paling terkenal di Donggala.

Wisata budaya ada di Banawa Tengah, dua kilometer arah barat Kota Donggala. Di sana, banyak penenun Buya Sabe atau Sarung Tenun Donggala. Pemerintah Kabupaten Donggala juga berupaya menambahkan eksistensi dengan program wisata seperti Festival Pesona Donggala, yang diadakan sejak 2016.

Donggala

Kini, kabupaten yang menetapkan 12 Agustus 1952 sebagai tanggal kelahirannya, harus bersiap bangkit kembali membangun daerahnya usai didera bencana dahsyat. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nungroho, mengatakan saat ini pihaknya belum bisa mendapatkan informasi mengenai dampak gempa di Donggala tetapi hal yang dipastikan adalah proses pembenahan akibat bencana tersebut dan juga antisipasi akan adanya gempa susulan yang masih mungkin saja terjadi dan tidak dapat dikendalikan sama sekali.

Himbauan terhadap masyarakat agar tetap senantiasa waspada pun telah dilakukan oleh pihak terkait, berbagai bantuan pun telah berdatangan semenjak beberapa hari yang lalu dari segala penjuru tanah air tercinta. Kepada para korban pun pemerintah beserta aparat terkait dengan sigap telah melakukan proses evakuasi secara sistematis untuk meminimalisir jatuhnya korban lagi akibat pasca be

ncana ini.  Berbagai channel donasi pun dibuka serentak untuk meringankan beban pada korban di lokasi bencana dan kita dapat berpartisipasi langsung dalam mengulurkan tangan dalam bentuk apapun yang sekiranya berguna bagi pada korban tersebut di lokasi. Bantuan dari pihak luar negeri pun telah tercata mengalir untuk membantu para korban.

Menurut Sutopo saat konferensi pers pada Sabtu (29/9) siang, semua tim dan bantuan logistik telah dikirimkan ke Kabupetan Donggala. Mulai dari Dinas Damkar, Satpol PP, Basarnas, BPBD. Namun, karena kondisi komunikasi dan listrik semuanya terputus, komunikasi di lapangan pun terkendala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *